Memikirkan perkawinan bagaikan meraba-raba jalan ke dunia lain
Dunia yang gelap ... berwarna dan maya
Aku takut terpenjara dalam cinta
Bagai masuk dalam kungkungan jeruji-jeruji besi
Tatkala aku harus mengorbankan keinginan hati ku
Untuk terbang bebas dan melebarkan sayap
Demi suatu ujud cinta yang ku panggil suami
Sayap ku yang seharusnya mengembang penuh
Hanya mampu menyentuh sudut-sudut penjara jiwa
Demi suatu junjungan yang bernama kodrat istri
Melayani suami ... mertua dan ... anak ...
Tak tahukah mereka kalau aku selalu berada dalam dilema?
Aku tak hanya hidup untuk mereka dan bermimpi untuk mereka
Aku punya mimpi sendiri ...
Mimpi untuk terus terbang merentang sayap
Menyentuh setiap batas cakrawala ilmu
Menggapai setiap ranting kemampuan dipuncak yang tertinggi
Memandang jauh ke warna-warni horison karier
Mengapa harus kawin?
Didepan penghulu yang mengikat tambang perkawinan
Yang turut juga membelenggu kaki tanganku ke tahah
Haruskah kawin?
Bukankah itu cuma kontrak?
Yang terus dijalankan dari generasi ke generasi untuk terus membelenggu jiwa perempuan
Mengapa perempuan harus kawin?
Mengapa teman hidup kami kami harus dipilihkan?
Mengapa tak boleh kawin tua?
Waktu adalah musuhku yang utama
Akan kukalahkan dia sebelum dia merampas semua mimpiku
Dan takkan ku biarkan perkawinan menjadi pita emas yang membelenggu
Laki-laki seharusnya berlari bersama kita dan mendorong kita ke langit
Dan bukan meminta kita menenun mimpi
dalam mahligai emas rumah tangga